Kontrakan XXI Road to Banten

Hari ini, Rabu tanggal 11 Juli 2012. Hampir seluruh kantor di Jakarta diliburkan. Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta menjadi alasan kenapa ada ‘liburan lokal’ ini. Lulusan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang sedang magang di BPS Pusat pun ikut kebagian libur, termasuk saya. Rencana untuk mengisi liburan pun telah saya siapkan bersama kawan-kawan 1 kontrakan. Sebenarnya rencana ini cukup mendadak, karena hanya berawal dari obrolan ringan sehari sebelumnya ketika kami akan berangkat ke kantor. Kebetulan salah satu teman yang asli Banten menawarkan diri untuk menghabiskan liburan di rumahnya. Tujuan liburan pun kami serahkan padanya. Setelah memperhitungkan waktu dan arah perjalanan, kami memutuskan untuk mengunjungi 3 tempat. Ketiga tempat tersebut adalah Keraton Kaibon, Masjid Agung Banten dan Pantai Carita. Dua tempat yang disebut pertama terletak di daerah Banten Lama.

Kira-kira pukul 06.30 WIB, kami berempat (Saya, Asep, Wachied, Rizkiyo) sudah siap berangkat dari kontrakan. Sebenarnya ada lima orang, tapi ada satu yang sedang sakit sehingga tidak bisa ikut (Rahmat DK). Perjalanan dimulai dari halte busway bidaracina. Dari sana kami naik busway arah Kp. rambutan/PGC untuk transit di halte BNN. Setelah turun, perjalanan kami lanjutkan dengan naik busway ke arah Slipi. Dari pemberhentian busway, kami naik bus jurusan Merak. Biaya bus Jakarta-Serang yang diperkirakan Rp 17.000,00 ternyata menjadi Rp 23.000,00. Selidik punya selidik, kemungkinan kami dihitung kondektur sebagai penumpang dari Bekasi. Ya sudahlah, itung2 pengalaman, jadi lain kali lebih baik diberi uang pas saja.

Perjalanan Jakarta – Serang kurang lebih memakan waktu 2 jam. Dari Jakarta, perjalanan melewati kota Tangerang sebagai pintu gerbang Provinsi Banten. Ada pemandangan yg menurut saya agak lucu. Sepanjang perjalanan banyak sekali rumah-rumah yang dicat berbagai macam merk operator seluler. Lah, ini rumah apa gerai operator yak? hehe..

Sampai Serang, kami berhenti di Universitas Tirtayasa untuk numpang buang air kecil di Masjid Shaikh Nawawi Al Bantani. Namanya jg anak muda, sesi foto-foto sudah mulai dari sini. Mengambil background masjid dan papan namanya, kami bergantian untuk diambil gambar. Memang lebay, asal ga alay, haha. Oke, dari situ perjalanan masih berlanjut. Dengan menaiki bus arah Kabupaten Pandeglang, kami meneruskan perjalanan. Rumah kawan saya ada di Baros, Kabupaten Serang yang letaknya di selatan Kota Serang sekaligus di utara Kabupaten Pandeglang. Perjalanan memakan waktu kira-kira 30 menit. Setelah turun di depan pasar Baros, kami dijemput dengan mobil. Kira-kira pukul 10.00 kami sudah tiba di rumah Asep.

Sesi yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu sarapan! Orangtua Asep sudah menyiapkan menu ikan mas goreng dan rendang daging sapi. Mantabs, kami berempat yang belum sarapan dari pagi pun segera menyikat makanan. Setelah puas sarapannya, Asep segera mencari dua kendaraan bermotor untuk membawa kami berkeliling nanti. Setelah semua siap, kira-kira pukul 10.45 kami sudah capcus menuju tujuan pertama di kawasan Banten Lama. Banten Lama terletak di sebelah utara Kota Serang, sehingga dari Baros kami kembali ke Kota Serang yang dilanjutkan ke Keraton Kaibon.

1. Keraton Kaibon

Keraton ini jangan dibayangkan seperti keraton-keraton kesultanan yang ada di Jawa. Yang kami lihat adalah puing-puing keraton yang telah dihancurkan pemerintahan Belanda ketika berada di Indonesia. Sejarah Kerato Kaibon bisa dibaca dari wikipedia di sini. Meski telah menjadi puing2, sisa-sisa keindahan keraton masih terasa. Di samping keraton, masih ada aliran sungai yang dipenuhi dengan pepohonan rindang. Bahkan ada sekumpulan ‘menthok’ yang tinggal di sana. Setelah puas berfoto-foto, perjalanan kami lanjutkan ke Masjid Agung Banten untuk sholat zuhur berjamaah.

2. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten selalu ramai dikunjungi. Salah satu daya tariknya adalah adanya makam Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah. Beliau adalah putra dari Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati Cirebon yang berdakwah di Banten. Sebagai salah satu waliyullah, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah. Setelah sholat zuhur berjamaah, kami pun menyempatkan diri untuk berziarah ke makam beliau.

Ada bangunan unik di Masjid Agung Banten, yaitu menaranya. Menurut cerita kawan saya, menara tersebut dibangun oleh arsitek Belanda yang masuk Islam. Ada tangga di dalam menara sehingga pengunjung bisa naik hingga ke atas menara dengan syarat mengisi sumbangan seikhlasnya. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Untuk memperkaya dokumentasi foto-foto, kami pun segera naik ke atas menara. Dari atas menara, terlihat laut yg terletak di sebelah utara Banten. Setelah puas berfoto-foto, kami melanjutkan tujuan akhir yang ditunggu, yaitu Pantai Carita!!

3. Pantai Carita

Perjalanan ke Carita dari Banten Lama kami lalui dengan sedikit kepayahan. Karena melewati Kota Cilegon yang notabene kota industri, banyak sekali truk-truk besar yang melewati jalanan, khususnya di kawasan Krakatau Steel. Sebenarnya ada jalur lain, yaitu lintas timur yang jalannya relatif lebih halus. Di Cilegon, banyak jalan yang sedang diperbaiki sehingga mobil, truk dan angkutan besar lainnya mengantri untuk melewati jalan. Untung saja kami berempat memakai kendaraan bermotor. Meskipun banyak jalan berlubang disertai panas yg menyengat, setidaknya kami masih bisa sampai ke Pantai Carita tepat waktu. Tepat azan asar kami telah tiba di pantai carita. Sebelum masuk area pantai, kami berhenti di masjid kampung untuk sholat asar dan ganti celana dahulu. Pukul 4 sore kami baru masuk ke carita.

Biaya masuk carita per motor Rp 20.000,00. Kalau berdua berarti 10 ribuan. Kalau sendirian berarti ditanggung sendiri, hehe.. Semua tas, dompet, hp, jaket kami titipkan di pos. Kami hanya pakai kaos, celana dan tak lupa kamera Canon Powershot A3300 IS yg saya punya. Awalnya kami khawatir, karena awan terlihat mendung dan ombak lumayan besar. Namun setelah beberapa saat, matahari mulai tampak dan ombakpun semakin mengecil. Beruntung, mungkin karena hari kerja (selain jakarta masih hari kerja), pengunjung tidak terlalu ramai. Kami pun puas berfoto-foto di pantai. Setelah pukul 17.30, kami segera bergegas pulang.

Perjalanan pulang menuju rumah Asep di Baros dilewati dengan rute yang berbeda. Jika waktu berangkat mengambil rute utara, pulangnya kami mengambil rute selatan yg lebih halus jalannya dan melewati perbukitan. Ada sedikit penyesalan kenapa tidak dari berangkat melewati jalur ini. Selain lebih lancar, pemandangannya juga lebih bagus kalau dilihat di siang hari. Pukul 06.30 kami berhenti sejenak di Pandeglang untuk menunaikan sholat maghrib.

Pukul 08.00 kami tiba di Baros dan disambut dengan makan malam yg cukup lezat. Menu ikan sarden, telur dadar dan sop berhasil mengganjal perut saya yg telah kelaparan. Pukul 09.30 kami pulang ke Jakarta dan sampai di kontrakan pukul 00.30 dini hari. Memang melelahkan, tapi sangat menyenangkan.

farid

Selamat datang dan salam kenal. Penulis merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta jurusan Komputasi Statistik. Menekuni pemrograman web khususnya PHP dengan Yii Framework. Penggemar musik instrumen dan film Doraemon. Berasal dari Kota Lumpia Semarang dan pernah bertugas menjadi Staf Produksi dan IPDS di BPS Kabupaten Melawi. Sejak tahun 2016, mulai bertugas sebagai Staf Pengolahan Data di BPS Provinsi Kalimantan Barat

You may also like...