Nasib Kereta di Indonesia

Kereta api di Indonesia sedang terpuruk. Sistem manajemen yang amburadul, khususnya untuk kereta ekonomi jarak jauh. Penjualan tiket yang buruk makin memperparah kondisi di lapangan. Memang benar, ada perbaikan di beberapa sisi, antara lain dilarangnya penumpang berdiri yang artinya space di lorong kereta terasa lebih longgar. Peraturan ini memang patut diapresiasi karena meminimalisir penumpang curang yang membayar sejumlah uang kepada kondektur ketika sedang diperiksa.

Namun, dari peraturan baru tersebut masih menyimpan duka yang dalam. Sebagai akibatnya, penjualan tiket bisa dibeli sejak H-7 pemberangkatan. Secara logika memang baik, karena kita bisa mempersiapkan kepulangan lebih matang. Tapi karena semua orang berpikiran sama, otomatis H-7 merupakan hari yang penuh dengan perjuangan untuk membeli tiket, karena dapat dipastikan antrian akan mengular jika hari H-nya bertepatan atau berdekatan dengan hari libur. Sudah beberapa kali saya mengurungkan niat untuk pulang karena telah kehabisan tiket. Padahal, waktu masih kuliah dulu, kalau ingin pulang besok ya hari ini beli tiketnya atau bahkan hari H-nya beli tiketnya. Memang sih, kadang-kadang tidak dapat tempat duduk, tetapi itu jarang sekali karena jika tempat duduk habis, saya beralih ke kereta bisnis dengan harga yang lebih mahal.

Contohnya saja hari ini, ketika saya hendak membeli tiket untuk kepulangan minggu depan. Nah, kebetulan hari jumatnya libur sehingga tiket untuk hari kamis malam pasti sudah menjadi incaran. Kamis pagi bersama dengan salah seorang kawan, kami telah siap mengantri di Stasiun Pasar Senen. Dan sesuai dugaan, antriannya parah. Barusan gabung antrian, langsung antrian di belakang saya bertambah dengan cepatnya. Kebetulan saya membeli tiket untuk rombongan kawan-kawan yang hendak pulang ke Semarang. Ada 8 tiket yang akan saya beli. Karena setiap pembeli maksimal memperoleh 4 tiket, jadi pembeliannya saya bagi dengan kawan saya sehingga masing-masing bertugas membeli 4 tiket.

Loket mulai dibuka pukul 07.00 WIB. Dan antrian mulai berjalan. Nah, di sini mulai ada kehebohan. Belum lama dibuka tiba-tiba saja ada pengumuman KA Progo dan KA Bengawan sudah ludes. Aneh. Bahkan sangat aneh menurut saya. Bayangkan saja, kalau benar-benar dibuka H-7 seharusnya kan stok tiket masih banyak. Dan ini loket baru dibuka. Woii, para caloo. Saya tahu kalian butuh uang. Tapi bukan begini caranya. Tidakkah kalian berpikir berapa jam para calon pembeli itu mengantri. Dan berapa banyak ibu-ibu yang lelah mengantri sambil menggendong bayinya? Tidak tahukah kalian para calon pembeli yang ada di depan sudah tenang karena harapan memperoleh tiket sangat besar. Dan tiba-tiba pengumuman tersebut memasung harapannya. Bukan senyum yang ditebar, tapi wajah lusuh dan kecewa bagai ditampar. Walaupun saya bukan calon pembeli kereta-kereta tersebut, saya ikut trenyuh melihatnya. Sedih, kecewa, marah, lelah, makianlah yang saya lihat dan saya dengar dari calon pembeli tersebut. Dan kesedihan saya makin berlipat ganda ketika seorang ibu bertanya, “Kereta api progo untuk 22 Maret masih ada mas?”. Dengan berat hati saya pun menjawab kalau tiket itu sudah habis. Dan ibu tersebut berlalu begitu saja.

Alhamdulillah, untungnya KA Tawangjaya jurusan Semarang masih ada hingga sampai giliran saya. Tiket untuk 8 orang masih bisa didaptkan dan saya bisa pulang dengan senyum yang lebih lebar.

farid

Selamat datang dan salam kenal. Penulis merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta jurusan Komputasi Statistik. Menekuni pemrograman web khususnya PHP dengan Yii Framework. Penggemar musik instrumen dan film Doraemon. Berasal dari Kota Lumpia Semarang dan pernah bertugas menjadi Staf Produksi dan IPDS di BPS Kabupaten Melawi. Sejak tahun 2016, mulai bertugas sebagai Staf Pengolahan Data di BPS Provinsi Kalimantan Barat

You may also like...