Kasih Sayang Allah kepada Umat Rasulullah SAW

Ada sebagian hal yang disampaikan oleh Habib Mundzir layak menjadi renungan yang amat dalam maknanya bagi kita semua. Seperti yang kita ketahui, Allah SWT telah menciptakan surga dan neraka yang diperuntukkan bagi hamba-hambanya. Bagi yang mau mengikuti perintahNya melalui lisan para nabi, surga adalah jaminannya. Begitu sebaliknya, bagi yang ingkar, neraka merupakan balasannya. Di hari kiamat kelak, setiap orang akan saling menghindar supaya tidak bertemu dengan keluarga dekat, teman sejawat ataupun orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Suami menghindari istri, istri menghindari suami. Ayah menghindari anaknya, begitupula anak menghindari bapaknya. Semua itu terjadi karena setiap orang takut diminta pertanggungjawabannya.

Setelah amal dihisab oleh Allah SWT, manusia ditempatkan ke dalam surga atau neraka. Begitu juga dengan kaum muslimin yang ketika dihisab masih berat amal dosanya, maka juga dimasukkan ke dalam api neraka. Bahkan saya juga pernah mendengar dari guru saya bahwa orang-orang kafir yang ada di dalam neraka ikut mencemooh kaum muslim tersebut. Walaupun bersyahadat ternyata nasibnya tidak berbeda dengan orang-orang kafir tersebut.

Ketika orang-orang yang bersalah disiksa dalam api neraka, Rasulullah SAW sedang sibuk-sibuknya memberikan syafaat kepada umatnya supaya lekas terbebas dari sana. Tidak peduli seberapa besar dosa yang umatnya lakukan, beliau tidak menginginkan mereka tersiksa. Masih sangat jelas teringat ketika guru saya Habib Umar bin Ahmad Al Hamid bercerita bahwa setiap nabi yang diutus memiliki sebuah doa yang pasti mustajab dan dikabulkan oleh Allah SWT. Contohnya Nabi Nuh yang berdoa agar umatnya diazab. Begitu juga dengan nabi-nabi lain yang menggunakan doa mustajab tersebut di dunia.

Berbeda dengan Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda kalau nabi-nabi sebelumnya telah menggunakan doa tersebut ketika di dunia, tetapi beliau akan menyimpan doa tersebut untuk menyelamatkan umatnya di akhirat kelak. Sungguh beruntung kita yang masuk dalam naungan umat Rasulullah SAW. Sungguh amat bersyukur kita lahir dan menyandang sebagai umat Rasulullah. Sungguh amat merugi orang yang menghina Rasulullah SAW. Betapa sayangnya Rasulullah ini bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Kalau kita berpikir sempit, bukankah terlihat Allah sangat kejam sedangkan Rasulullah SAW begitu lembutnya? Sebelum berpikir terlalu jauh, hendaknya kita perlu memahami arti/makna adanya Rasulullah SAW bagi kita sebagai umatnya. Bukan berarti Allah SWT begitu kejam, melainkan terlihat betapa kasih sayang Allah amat besar kepada hambanya melalui diri Rasulullah SAW ini. Siapa yang menciptakan akhlak Rasulullah SAW? Sudah pasti Allah SWT. Siapa yang menuntun sikap Rasulullah SAW yang begitu lembut kepada umatnya? Sudah pasti Allah SWT. Rasulullah adalah sebaik-baiknya wasilah bagi kita untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Jadi, sahabatku, sungguh benar bahwa kasih sayang Allah SWT lebih luas daripada murka-Nya. Dan konsekuensinya kita juga harus mencintai dan meneladani Rasulullah SAW.

Sungguh merinding ketika saya mendengar uraian dari Habib Mundzir ini. Semoga bermanfaat bagi kawan2 semuanya. Sebagai hadiahnya, yok bareng2 kita dengerin sholawat qur’aniyyah dari pesantren Tebu Ireng ini untuk menuntun lidah kita supaya selalu bersholawat kepada Rasulullah SAW.

Download

farid

Selamat datang dan salam kenal. Penulis merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta jurusan Komputasi Statistik. Menekuni pemrograman web khususnya PHP dengan Yii Framework. Penggemar musik instrumen dan film Doraemon. Berasal dari Kota Lumpia Semarang dan pernah bertugas menjadi Staf Produksi dan IPDS di BPS Kabupaten Melawi. Sejak tahun 2016, mulai bertugas sebagai Staf Pengolahan Data di BPS Provinsi Kalimantan Barat

You may also like...